Makassar – Suasana pelatihan berlangsung hidup. Sejak sesi materi dimulai, para peserta tampak antusias menyimak setiap pemaparan. Empat pemateri yang hadir bukan hanya menyampaikan teori, tetapi juga membagikan pengalaman nyata selama bertahun-tahun berkecimpung di dunia jurnalistik.
Risal Damis, mantan Kepala Stasiun TVRI Kalimantan Barat, membawa peserta memahami bagaimana kekuatan visual menentukan kualitas sebuah berita. Ia berbicara mengenai momentum pengambilan gambar, komposisi, hingga penempatan angle yang mampu mempertegas fakta. Berbagai cerita lapangan yang ia alami membuat peserta semakin mudah menangkap pesan yang disampaikan.
Salim Djati Mamma kemudian mengajak peserta menyelami teknik wawancara yang efektif. Bagaimana membangun komunikasi dengan narasumber, menjaga etika, sampai cara mengajukan pertanyaan yang tajam namun tetap menghormati. Ia menekankan bahwa keberhasilan wawancara sering kali ditentukan oleh sikap dan kesiapan jurnalis sebelum turun liputan.
Sementara itu, Abd Djabbar memfokuskan pembahasan pada dinamika penulisan berita online di era digital. Ia menekankan pentingnya memahami perilaku pembaca, kecepatan distribusi informasi, serta strategi agar karya jurnalistik tetap menarik tanpa meninggalkan prinsip akurasi.
Ismail Asnawi melengkapi pembahasan lewat strategi liputan sekaligus teknik penyusunan naskah. Ia mencontohkan bagaimana menempatkan subjek, predikat, dan objek secara tepat agar berita lugas dan mudah dipahami. Selain itu, ia juga menyoroti sisi keamanan jurnalis saat berada di lapangan, mulai dari membaca situasi, menjaga jarak aman, hingga memastikan perlindungan diri tanpa menghambat kerja peliputan.
Berbagai pengalaman nyata yang dibagikan para pemateri membuat ruang pelatihan terasa dinamis. Peserta tidak hanya mendengar, tetapi juga berdiskusi, bertanya, dan membayangkan langsung praktik kerja jurnalistik di medan sebenarnya.
Tim Redaksi
