Ratusan individu burung air, baik jenis penetap maupun migran, tercatat dalam kegiatan Asian Waterbird Census (AWC) atau Sensus Burung Air Asia yang digelar di Danau Limboto, Sabtu (7/2/2026). Kegiatan ini melibatkan lebih dari 80 relawan dari berbagai latar belakang.
Pengamatan dimulai pukul 06.00 WITA di tepi danau. Para pengamat menggunakan berbagai peralatan, termasuk teropong (binocular), spotting scope, dan buku panduan lapangan untuk mengidentifikasi serta menghitung kehadiran burung.
“Pengamatan dan sensus burung dimulai pukul 06.00 WITA di tepi Danau Limboto,” ujar Iwan Hunowu, pegiat lingkungan dari Perkumpulan Biodiversitas Gorontalo (BIOTA) sekaligus koordinator lapangan.
Di antara spesies yang teridentifikasi adalah blekok sawah (Ardeola speciosa), kuntul kecil (Egretta garzetta), gagang bayam (Himantopus himantopus), cerek tilil (Charadrius alexandrinus), dan tikusan alis-putih (Poliolimnas cinereus). Dua jenis burung lainnya masih dalam proses identifikasi.
Kegiatan ini merupakan inisiatif rutin BIOTA yang berkolaborasi dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Gorontalo, The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) simpul Gorontalo, serta Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Partisipan juga berasal dari Fakultas Hukum, Farmasi UNG, dan Universitas Nahdlatul Ulama Gorontalo.
Selain penghitungan burung, acara ini juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi mengenai pentingnya lahan basah bagi kehidupan. Para pengamat pemula dibimbing oleh pengamat berpengalaman untuk memastikan akurasi data.
Koordinator AWC Indonesia sekaligus Ketua Sekretariat Kemitraan Nasional Konservasi Burung Bermigrasi dan Habitatnya (KNKBBH), Ragil Satriyo Gumilang, menekankan pentingnya pemantauan jangka panjang terhadap burung air.
“Burung air memikat para pengamat amatir dan relatif mudah dihitung, sehingga ideal untuk pemantauan jangka panjang,” tegas Ragil.
Sensus Burung Air Internasional, bagian dari AWC, telah berjalan sejak 1967 dan menjadi salah satu program pemantauan biodiversitas tertua dan terbesar di dunia. Pelaksanaan pada Januari–Februari dipilih karena banyak spesies berkumpul dalam jumlah besar di lahan basah, memungkinkan pemantauan tren populasi dan identifikasi lokasi penting.
“Sejak awal abad ke-20, telah disadari bahwa burung-burung ini hanya dapat dilestarikan dan dikelola secara berkelanjutan melalui kolaborasi internasional,” kata Ragil.
Tim Redaksi
